1. Sejarah Tari Gantar
Ada suatu mitos yang mengawali lahirnya tari gantar sebelum terciptanya
tari gantar yang sudah semakin berkembang. Mitos ini dulunya sangat
dipercaya pada masyarakat pendukungnya yaitu masyarakat Dayak Tunjung
dan masyarakat Dayak Benuaq. Konon menurut mitos yang berkembang dalam
masyarakat Suku Bangsa Dayak Tunjung dan Suku Bangsa Dayak Benuaq bahwa
lahirnya Tari Gantar berawal dari cerita di Negeri “Dewa Nayu” yang
diyakini sebagai tempat Dewa Nirwana yang bernama Negeri Oteng Doi. Pada
suatu hari terjadi peristiwa didalam keluarga Dewa di Negeri Oteng Doi
atau Negeri Dewa Langit. Keluarga tersebut terdiri dari suatu kepala
keluarga yang bernama Oling Besi Oling Bayatn. Oling Bayatn mempunyai
seorang istri dan dua orang anak putri yang bernama Dewi Ruda dan Dewi
Bela. Keluarga tersebut hidup tenteram dan damai di Negeri Oteng Doi.
Pada suatu ketika datanglah seorang Dewa yang bernama Dolonong Utak
Dolonong Payang ke keluarga Oling Besi Oling Bayatn, tanpa disangka dan
diduga oleh keluarga Oling Besi. Kedatangan Dolonong Utak tenyata
beritikad buruk. Oling Besi dibunuhnya dengan tujuan dapat menikahi
istri Oling Besi. Peristiwa tersebut terjadi didepan mata istri dan
kedua anak Oling Besi. Karena takutnya istri Oling Besi menerima ajakan
Dolonong Utak untuk menikah, namun kedua anaknya menyimpan dendam pada
ayah tirinya tersebut.
Hari berganti hari, masa berganti masa, setelah kedua Putri Oling Besi
menginjak remaja mereka berdua berencana untuk membunuh ayah tirinya.
Pada suatu hari kedua Dewi tersebut akan melaksanakan niatnya untuk
membalas kematian Ayah kandungnya pada Ayah tirinya, saat Ayah tirinya
(Dolonong Utak) sedang istirahat di balai-balai rumahnya. Ketika
kesempatan itu tiba dibunuhlah dolonong Utak dengan menggunakan sumpit.
Dalam waktu sekejap Dolonong meninggal, setelah diketahui bahwa Ayah
tirinya meninggal selanjutnya kedua putri tersebut memenggal kepala
Dolonong dan diikatkan pada batang sumpit yang digunakan untuk
membunuhnya. Kedua putri tersebut senang, keduanya bersuka cita dan
mengungkapkannya dengan menari-nari berdua. Dan sebagai musiknya mereka
mencari sepotong bambu pendek dan mengisinya dengan biji-bijian.
Ungkapan kepuasan membunuh Dolonong Utak itu di lakukan hingga beberapa
hari. Begitulah peristiwa yang terjadi di alam Dewa Langit.
Dari dunia kejadian di alam Dewa tersebut diketahui oleh seorang manusia
yang mampu berhubungan dengan alam Dewa yang bernama Kilip. Karena
Kilip mengetahui kejadian itu maka Dewi Ruda dan Dewi Bela mendatangi
Kilip agar ia tidak menceritakan kejadian ini kepada Dewa-dewa lain di
Negeri Oteng Doi. Kilip menyetujui dengan mengajukan satu syarat yaitu
Dewi Ruda dan Dewi Bela harus mengajarkan tari yang mereka lakukan saat
bersuka cita. Tanpa pikir panjang Dewi Ruda dan Dewi Bela pun
mengajarinya. Dari hasil pertemuan tersebut Kilip mendapatkan satu
bentuk tarian sakral karena properti tari tersebut berupa tongkat
panjang dan sepotong bambu, maka Kilip memberi nama tarian tersebut
sebagai Tarian Gantar yang artinya tongkat (yang sebenarnya sebuah
sumpit) dan sepotong bambu yang biasa disebut Kusak.
Tari Gantar ini dahulunya hanya ditarikan pada saat upacara adat saja,
menurut versi cerita yang lain bahwa tari gantar merupakan tarian yang
dilaksanakan pada saat upacara pesta tanam padi. Properti tari sebuah
tongkat panjang tersebut adalah kayu yang digunakan untuk melubangi
tanah pertanian dan bambu pendek adalah tabung benih padi yang siap
ditaburkan pada lubang tersebut. Gerakan kaki dalam tari ini
menggambarkan cara menutup lubang tanah tersebut. Muda-mudi dengan suka
cita menarikan tari tersebut dengan harapan panen kelak akan berlimpah
ruah hasilnya. Tari ini biasanya dilakukan bergantian oleh anggota
masyarakat Suku Dayak Tunjung dan benuaq. Versi lain juga beredar dalam
masyarakat bahwa dahulunya Tari Gantar adalah merupakan tari sakral yang
hanya boleh ditarikan saat para pahlawan pulang dari medan peperangan.
Tari ini sebagai penyambut kedatangan mereka dan ditarikan oleh
gadis-gadis remaja. Properti tongkat panjang adalah sebuah sumpit dan
diberi hiasan kepala atau tengkorak musuh (digantungkan) yang telah
dibunuh oleh para pahlawan. Sedangkan bambu kecil merupakan peraga unutk
mengimbangi gerak tari.
2. Fungsi Tari Gantar
Tari adalah salah satu bentuk dari perwujudan budaya, sedangkan ciri,
gaya dan fungsi suatu tari tidak terlepas dari kebudayaan dimana tari
tersebut muncul dan berkembang. Dalam lingkup budaya yang mempunyai
bahasa, adat istiadat dan kepercayaan tari tersebut bisa terbentuk dan
fungsi. Tarian dapat disajikan dalam berbagai peristiwa. Didalam
kebudayaan daerah dikenal penyajian tari dalam rangka suatu upacara
keagamaan dan upacara adat, bahkan tidak jarang tari itu merupakan
bagian tidak terpisahkan dengan upacara tersebut. Dalam hal ini orang
yang menyajikan tarian tersebut adalah orang yang terlibat dalam upacara
tersebut, dengan maksud dari setiap gerakan ada arti atau simbol suatu
pernyataan atau harapan yang diungkapkan. Ditinjau dari fungsi seni
tari, Tari Gantar pada awalnya sebagai upacara adat dan memang munculnya
atau keberadaannya suatu karya tari pada jaman dahulu pengemban utama
dari keberadaan suatu tari. Secara khusus bahwa seni tari beserta
iringan yang digunakan pada dasarnya merupakan pengemban dari
unsur-unsur yang bersifat magis yang diharapkan hadir. Fungsi kesenian
dalam ethnik di Indonesia, yaitu:
a. Sebagai sarana untuk memanggil kekuatan Roh
b. Penjemputan Roh-roh pelindung untuk hadir ditempat pemujaan
c. Peringatan kepada nenek moyang dengan menirukan kegagahan dan kesigapan.
d. Merupakan pelengkap upacara, sehubungan dengan peningkatan tingkat hidup seseorang atau saat tertentu.
Pergeseran fungsi bisa saja terjadi yaitu fungsi sakral ke fungsi
pertunjukkan karena pergeseran tersebut sudah mulai di dukung oleh
masyarakat penduduknya dan masyarakat sudah tidak mendukung adat yang
menopang dari karya tari tersebut sehingga perlu adanya upaya-upaya
pelestarian dengan cara mengalihfungsikan. Hal tersebut dapat terjadi
karena adanya beberapa pengaruh, antara lain:
a. Adanya pengaruh budaya lain
b. Masuknya beberapa agama
c. Ada penagruh globalisasi dan informasi yang memudahkan komunikasi.
Begitu pula yang terjadi dengan Tari Gantar, pada jaman dahulu Tari
Gantar terangkai dalam upacara Ngawung Enghuni, yaitu semacam upacara
tanam padi, beralih fungsinya menjadi fungsi pertunjukkan karena adanya
pengaruh-pengaruh tersebut diatas. Tari Gantar pada saat ini bisa
digunakan untuk penyambutan tamu. Fungsi pertunjukkan antara lain:
a. Sebagai media hiburan
b. Sebagai media pendidikan
c. Sebagai kajian seni
d. Sebagai media promosi, dsb.
Fungsi Tari Gantar berkembang lebih luas dan tentunya disesuaikan
kebutuhan dari event yang dipergelarkan, baik itu bentuknya, maupun
lamanya (durasinya).
3. Deskripsi Tari Gantar
a. Gambaran Secara Umum
Gerakan Tari Gantar yang sekarang sering kita saksikan merupakan
rangkaian gerakan yang mengalami proses penggarapan maupun pemadatan.
Gerakan Tari gantar didominasi pada gerakan kaki. Pada awalnya Tari
Gantar di abgi menjadi 3 jenis, yaitu:
1) Gantar rayatn
Jenis Tari Gantar ini alatnya hanya satu yaitu Gantar (kayu yang
panjang), pada ujung tongkat tersebut diikatkan/digantung tongkorak
manusia yang dibungkus dengan kain merah dan dihiasi dengan Ibus. Mereka
menari berkeliling sambil menyanyi (bergurindam), dipinggang penari
terikat mandau atau parang. Apabila tidak memegang tongkat, mereka
mengelewai (melambaikan tangan sesuai irama).
2) Gantar Busai
Jenis tari ini hanya membawa sepotong bambu yang diisi dengan
biji-bijian yang dipegang tangan sebelah kanan sedangkan tangan kiri
tidak membawa apa-apa (kosong) waktu menari dilambai-lambaikan sesuai
irama (ngelewai) sedangkan bambunya berukuran 50cm diberi dua belas
gelang agar berbunyi gemerincing jika digerakkan. Jumlah bambu atau
gantar tersebut sesuai dengan jumlah penarinya. Mereka menari
berkelompok-kelompok, kadang ada yang “Ngloak” (menari sambil saling
memupuki dengan pupur basah).
3) Gantar Senak dan Kusak
Jenis Tari Gantar ini, penarinya menggunakan dua peralatan tari yaitu
Senak (tongkat) yang dipegang tangan kiri. Sedangkan Kusak (bambu) yang
dipegang tangan kanan, yang berisi biji-bijian supaya nyaring bunyinya.
Kusak dipegang tangan kanan dengan telapak tangan telentang dan siku
ditekuk. Senak biasanya berukuran satu sampai seperempat meter,
sedangkan Kusak dengan 30cm yang diisi dengan biji-bijian dan ujungnya
di beri penutup yang disebut dengan Ibus.
Jenis tari yang ketiga inilah yang berkembang pada saat ini dengan
perkembangan variasi gerak, pola lantai, penggarapan level, iringan tari
yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi pada saat ini. Sekarang
Tari Gantar berfungsi untuk menyambut tamu yang datang ke daerah
tertentu, daerah tersebut menyebutnya dengan sajian Tari Gantar dan
mengajaknya menari cukup dengan menyerahkan tongkat kepada tamu yang
akan diajak menari bersama. Proses perkembangan ini melalui proses
penggarapan baik melalui pemadatan maupun penggalian sehingga tercipta
suatu rangkaian yang sekarang sering kita saksikan. Dalam proses
penggarapan ini juga tidak lepas dari pengaruh ethnik serta ide dari
sang pencipta.
Proses penggarapan ini dilakukan karena adanya berbagai faktor yang
tidak mendukung lagi dari keberadaan maupun kelestarian karya tari ini,
contoh faktor tersebut adalah beralihnya fungsi tari dari fungsi sakral
menjadi fungsi pertunjukkan, pengaruh arus informasi dan komunikasi yang
menuntut serba cepat sehingga tidak bisa lagi masyarakat pendukung
untuk berlama-lama menikmati karya tari yang monoton bahkan tidak
tertarik untuk menyaksikan. Masih banyak lagi faktor lain yang menjadi
pertimbangan dan pola diperhatikan sehingga muncul suatu proses
penggalian, penggarapan tari, dengan harapan karya tari tersebut masih
mampu bertahan hidup dan tetap diterima oleh masyarakat pendukungnya.
b. Ciri Umum gerakan Dasar Tari Gantar
Unsur-unsur Gerakan:
1) Gerakan tangan memegang Kusak
Dasar gerakan tangan dan cara memegang Kusak:
Keempat jari tangan yang memegang Kusak, menggemgam dari bawah ke atas, sedangkan ibu jari melingkari Kusak dari atas.
Posisi Kusak vertikal saat digenggam:
Pada saat menggerakkan tangan yang memegang Kusak sudut siku 25 derajat
dan ke bawah hingga sudut 45 derajat dengan menggoncang-goncang bambu
(Kusak). Tangan pergelangan yang aktif bergerak.
2) Gerakan tangan memegang Senak (Tongkat)
Dasar gerakan tangan yang memegang Senak dan cara menggenggamnya:
Keempat jari tangan memegang Senak, menggenggam dari sisi luar ibu jari menutup dari atas ujung tongkat (Senak).
Tongkat (Senak) posisi lurus ke bawah:
Tongkat (Senak) pada saat diangkat ujungbawah Senak kurang lebih 1
jangkal dari lantai dan ditaruh kembali hingga ujung bawah Senak
bertumpu di dasar lantai di depan ujung jari kaki kiri.
Gerkan ini dilakukan dengan mengikuti gerakan kaki (saat kaki melangkah
Senak diangkat, dan pada saat kaki di letakkan Senak bertiumpu di
lantai).
3) Gerakan kaki dan gerakan berjalan
Posisi awal kedua kaki sejajar. Sebelum kaki dilangkahkan, ujung jari
kaki menumpu atau menyentuh lantai baru kemudian dilangkahkan, gerakan
ini dilakukan bergantian dengan kaki melangkah kanan, kiri, kana, kiri
dalam hitungan 1 sampai 4 atau sesuai yang dikehendaki pelatih tari.
Tumit kaki menumpu lantai, sebaliknya jari-jari kaki ke atas dengan arah
hadap kaki agak ke kanan 25 derajat dan lurus ke depan, lalu tumit kaki
diangkat ujung jari-jari kaki menumpu lantai kemudian kaki ditarik ke
belakang agak ke samping melampaui kaki kiri ujung jari kaki menyentuh
lantai, berat badan pada kaki yang satunya.
Bergerak mundur dengan sebelumnya meletakkan kaki kanan ke depan, arah
hadap ke kanan 25 derajat dan lurus ke depan. Tumit kaki kanan tepat di
depan ujung jari kaki kiri, kemudian di tarik ke belakang melampaui kaki
kiri dilakukan gerakan yang sama dengan bergantian kaki. Ujung jari
kaki kanan bertumpu pada lantai tumit di tarik ke atas, berat badan pada
kaki kiri. Posisi kaki kanan agak di depan kaki kiri, kemudian ujung
kaki kanan membuka ke samping dengan tidak merubah letak kaki bagian
tumit hingga kedua kaki membentuk sudut 25 derajat (pada saat kaki
bagian ujung membuka ke samping, telapak kaki tidak menyentuh lantai
hanya tumit kaki dan berat badan pada kaki kiri). Selanjutnya kaki kanan
menutup hingga posisi kaki seperti semula, gerakan ini dilakukan dengan
sistematika buka, tutup buka tutup lalu melangkah maju dengan hitungan
1-2-3 pada hitungan ke 4 kaki kanan membuka ke sampipng selanjutnya
seperti keterangan gerakan ke atas. Berjalan jinjit, jari-jari dari
kedua kaki bertumpu pada lantai tumit diangkat kemudian berjalan ke
depan. Kaki kanan bergerak ke samping, dengan kesan membuat garis
cembung di lantai, selanjutnya kaki kiri mengikuti kaki kanan, dengan
bergerak ke kanan hingga kedua kaki sejajar hampir bersentuhan
selanjutnya kaki kiri bergerak ke samping dengan kesan membuat garis
cembung pada lantai (hitungan 1 x 8), kemudian kaki kanan dilangkahkan
ke depan arah hadap kaki kanan ke kanan, berat badan pada kaki kiri
selanjutnya berpindah pada kaki kanan bersamaan dengan membalikkan badan
ke arah hadap yang berlawanan. Lalu ujung jari kaki bertumpu pada
lantai, gerak ini dilakukan dengan ritme yang cepat. Kaki kanan
melangkah ke depan diikuti oleh kaki kiri dengan melangkah ke depan
melampui kaki kanan, kaki kanan bergerak bergerak ke belakang dengan
posisi arah hadap kaki ke kanan diikuti kaki kiri dengan mengangkat kaki
hingga kurang lebih 1 jengkal dari dasar lantai.
4) Gerakan posisi badan
Pada dasarnya gerakan dan posisi badan pada saat melakukan gerak Tari
Gantar dalam posisi biasa, begitu juga pada gerak dari pedalaman
Kalimantan Timur yang lainnya. Kalaupun ada tekanan pada posisi badan
itu tidak terlalu ditonjolkan seperti pada waktu badan merendah pantat
tidak ditonjolkan kke belakang seperti pada ciri khas Tari Bali, dan
tidak membusungkan dada ke depan tetapi badan tetap merendah dengan
menekukkan kedua lutut atau salah satu kaki di tari ke depan dan ke
belakang hingga badan merendah untuk mengimbangi. Dalam Tari Gantar
tidak ditemukan adanya ekspresi wajah sehingga mata, leher, dan kepala
tidak berfungsi banyak.
c. Tata Busana
Penari wanita Tari Gantar biasanya menari dengan menggunakan kostum dan perlengkapan seperti:
1) Baju atasan
Baju atasan yang dipakai penari gantar yaitu baju model blus “You Can
See” yang biasanya diberi rumbai-rumbai dipinggir lingkaran lengan
bajunya, bentuk leher bundar kancing depan. Bahan yang dipergunakan kain
polos biasa atau dari bahan tenun ulap doyo, bahan tenun ulap doyo ini
bisa di dapat dari masyarakat Dayak Benuaq di Tanjung Isuy. Sebagai
pengganti blus penari bisa juga mengenakan kebaya panjang atau setengah
lengan yang terbuat dari bahan atau kain tenun.
2) Ta’ah
Bawahan penari Gantar menggunakan kain Sela atau Ta’ah dengan ukuran
lebar 2 kali ukuran lingkaran pinggang. Diukir atau dihiasi uang logam.
Bisa juga pinggirannya ditempel kain perca tang berwarna-warni. Bahan
terdiri dari kain polos atau tenun doyo.
3) Hiasan kepala
Bagian kepala memakai Labung yaitu hiasan kepala yang diikat seputar
kepala yang dihiasi dengan ukiran-ukiran yang disebelah belakang
menempel kain lurus ke samping atau bisa juga penarinya memakai seraung
yaitu topi lebar yang diberi hiasan pada bagian atas serta rumbai-rumbai
yang berjuntai pada pinggiran topi. Sebagai perlengkapan penari
menggunakan hiasan hiasan kalung manik batu beraneka warna dan pada
pergelangan tangan perhiasan gelang manik batu beraneka warna atau
gelang sulau yang terbuat dari logam atau tukang. Pada pergelangan kaki
di pasang gelang kaki.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar