Minggu, 12 Mei 2013

Budaya Dayak Tunjung

B. Kebudayaan Fisik
1. Makanan/Minuman
Makanan khas suku Dayak Tunjung ada bermacam-macam dimana makanan tradisional ini selalu disajikan pada saat dilakukan acara perkawinan, acara kematian maupun acara syukuran.
• Tumpiiq
• Lemang



Lemang atau Solok dalam bahasa Dayak Tunjung merupakan salah satu makanan yang selalu ada dalam setiap acara yang diselenggarakan masyarakat Dayak Tunjung. Lemang ini terbuat dari beras ketan yang dimasak menggunakan bamboo yang dibakar menggunakan api.
• Tuak


Namun pada masa sekarang Tuaq sudah sangat jarang dihidang kan dalam acara-acara adat..
2. Pakaian



Pakaian tradisional ada beraneka macam warna. Ada yang berwarna Kuning, Merah, Biru, Hijau atau pun capuran dari warna-warna diatas. Pada bagian kepala biasanya menggunakan ikat kepala berwarna merah-putih (ada juga warna lain). Sedangkan baju biasanya terdapat ukiran-ukiran yang terbuat dari manic-manik maupun serat kulit kayu (Jomook). Untuk bagian bawah, Wanita menggunakan Ketau semacam kain yang dilingkarkan sepanjang kaki yang diikatkan di pinggang, sedangkan kaum pria menggunakan cawat seperti Dayak pada umumnya.
3. Kerajinan Tangan Tradisional
• Tas-tas manic
• Tas-tas rotan
• Seraung
4. Senjata Tradisional (Mandau)
C. Kebudayaan Non Fisik
1. Sistem Kemasyarakatan
System kemasyarakatan yang berlaku pada masa sekarang adalah system pemerintahan yang dianut setelah bangsa Indonesia merdeka yaitu:
a. Kepala kampung
b. Wakil kepala kampung
c. Sekretaris dan bendaraha
d. Kepala adat
e. Pengerak dan ketua padang : sebagai pembantu staff kelurahan
f. Rukun tetangga (RT)
g. Lembaga sosial desa (LSD)
h. PErtahanan sipil (Hansip)
2. Sistem Ekonomi dan Mata Pencaharian
Mayoritas system mata pencaharian Suku Dayak Tunjung adal bertani dan berladang dimana hal ini disesuaikan dengan kondisi geografis setempat yang berhutan lebat. Selain berladang, ada juga sebagian orang yang berprofesi sebagai pedagang, pegawai pemerintah, guru dan karyawan swasta, bahkan bupati yang sekarang menjabat adalah orang asli Suku Dayak Tunjung.
3. Sistem Kekerabatan
System kekerabatan yang dianut Suku Dayak Tunjung adalah Sistem dengan Prinsip Keturunan Ambilineal, yaitu system yang menghitung keturunan hubungan kekerabatan berdasarkan garis keturunan dari ayah dan ibu. Adapun sopan santun pergaulan dalam kekerabatan Suku Dayak Tunjung menunjukan hubungan pergaulan antara orang yang tua dan yang muda dimana yang muda menghormati orang yang lebih tua.
Kadang yang dihormati atau lebih dihormati adalah dari orang tuanya sendiri adalah mertuanya. Kepatuhan pada mertua tampak pada hal-hal patuh pada omongannya, berpantang memakai pakaian mertuanya, menyebut nama mertuanya, duduk berdampingan atau berhadapan dengan mertuanya sambil bercakap-cakap.
4. Sistem Religi
Agama asli Suku Dayak Tunjung dapat disebutkan termasuk dalam golongan Animisme. Dasar kepercayaan mereka adalah adanya roh-roh. Roh ini terbagi dalam dua bagian yaitu roh yang baik dan roh yang jahat.
Namun pada masa sekarang kepercayaan ini mulai ditiggalkan dimana masyarakat Suku Dayak Tunjung sudah memeluk Agama. Mayoritas Suku Dayak Tunjung menganut Kristen Protestas (50%), Khatolik (35%), Agama Asli (Kharingan) 10 (%), Islam (5%) orang Tunjung yang menganut Islam adalah yang menikah dengan Orang Halok .
5. Sistem Pelapisan Sosial
Dalam masyarakat Suku Dayak Tunjung terdapat system pelapisan sosial yang membedakan derajat Masyarakatnya. Ada tiga tingkat pelapisan sosial yaitu:
a. Golongan Mantiq : Mantiq merupaka golongan bangsawan dalam masyarakat Suku Dayak Tunjung yang diberi hak untuk memerintah dan memimpin serta harus dipatuhi. Bilamana tidak dipatuhi maka akan celaka. Ketentuan golongan ini ditentukan secara historis atau turun temurun berdasarkan garis keturunan.
b. Golongan Aji : Golongan ini adalah lapisan masyarakat biasa. Menurut cerita dongeng atau mitologi, golongan ini adalah keturunan Kilip
c. Golongan Rivat (Budak) : golongan ini sudah tidak ada lagi tetapi orang-orang masih dapat menyebutkan siapa-siapa bekas dari golongan itu. Dahulu orang yang ditangkap dalam peperangan terhadap suku lain dari sub suku sendiri yang dianggap sudah menjadi ketetapan Dewa ia tergolong dalam kelas ini
Sistem pelapisan sosial pada masa modern ini sudah tidak berlaku lagi. Semua masyarakat Dayak Tunjung itu sama dan tidak ada yang membedakan dari segi pelapisan sosial.

Dayak Tunjung Rentenukng VS Dayak Penihing, Saudara yang terpisah ???

Seperti yang kita ketahui bahwa suku Dayak Tunjung dan Suku Penihing/Aoheng adalah salah dua dari salah banyak suku-suku yang mendiami wilayah Kabupaten Kutai Barat. Secara Geografis, lokasi tempat kedua suku ini diami juga cukup berjauhan.. jika suku Dayak Tunjung mendiami wilahay Kec. Linggang Bigung, Kec. Barong Tongkok, Kec. Sekolaq Darat, Kec. Manoor BuLaant, Kec. Tering dl l yang mayoritas kampugnnya berada di wilayah ibukota kabupaten (sekitar)… sedangkan suku Penihing sebagian besar mendiami wilayah Hulu Mahakam…
Sumber Gambar Dari Web…

berhubungan dengan judul yang saya ambil di atas, Dayak Tunjung Rentenukng VS Dayak Penihing/Aoheng, Saudara yang terpisah?? Ada pertanyaan yang sangat mengganjal dan saya sangat ingin mencari tahu kebenarannya. Saya pernah mendengar dari beberapa teman yang menyebutkan bahwa suku Dayak Tunjung Rentenuukng sebenarnya merupakan suku Penihing yang milir mengikuti arus sungai mahakam dari daerah hulu sungai mahakam.. bukan hanya dari satu orang saya pernah mendengar cerita ini melainkan dari beberapa orang yang berbeda…
yang menjadi pertanyaan saya adalah:
1. Apakah benar kalo suku Dayak Tunjung Rentenukng sebenarnya adalah suku Penihing yang mencari daerah baru untuk memenuhi kebutuhannya?
2. Mengapa pada masa sekarang suku Tunjung Rentenukng sudah tidak ada terlihat sama sekali persamaannya dengan suku Penihing, kecuali dari alunan / logat bahasa yang lembut.
3. Apa yang menyebabkan hilangnya budaya Penihing dalam orang rentenukng?
Untuk menjawab pertanyaan diatas, saya akan memberkan sedikit bagaimana Gambaran Suku Dayak Tunjung, Khususnya rentenukng…
Sekilas Mengenai Suku Dayak Tunjung Rentenukng…..
Dayak Tunjung Rentenukng tentu saja adalah salah satu bagian dari sub suku Dayak Tunjung yang ada di Kutai Barat. Orang Rentenukng tentunya berbeda dengan suku Tunjung yang ada di bagian hilir. Rentenukng ada sebutan untuk Suku Tunjung yang berada di bagian hulu (wilayah kec. Linggang Bigung, Kec. Tering, Kec. Long Iram) , selain itu rentenukng diambil dari kata Nuukng yang berarti hulu, maka dapat disebut bahwa orang rentenukng adalah orang yang berasal dari hulu. Untuk memudahkan membedakan antara orang Tunjung hilir dengan tunjung Hulu maka saya akan menggunakan Tonyooi untuk orang tunjung hilir dan Rentenukng untuk orang Tunjung HuLu tanpa bermaksud untuk memisahkan kedua sub ini(hanya untuk memudahkan dalam pemahaman).
Rentenukng ini memiliki beberapa perbedaan yang cukup sigifikan dengan Tonyooi , khususnya dalam tata bahasa. Orang Tunjung pasti akan langsung mengenali dari cara bicara antara Rentenukng dan Tonyooi..
Umumnya orang rentenukng berbicara dengan alunan yang sangat lembut, perlahan dan halus walaupun dalam keadaan marah sekalipun tepat saja alunan lembut ini terlihat khas.. sedangkan untuk Tonyooi umumnya berbicara dengan nada yang agak cepat, keras , alunan yang meninggi seperti, serta penekanan-penekanan yang cukup banyak. sangat berbeda dari segi alunan /logatnya….
untuk kata-kata yang digunakan dalam bahasa daerah cukup berbedam namun keduanya pasti akan mengerti jika saling berkomunikasi satu dengan yang lain..
contohnya:
Bahasa Indonesia : Kamu, aku, jangan
Rentenukng : Koq, Akuq, Adui
Tonyooi: Koi, Ab, Boteq
menurut saya bahasa Tunjung Hilir lbih banyak persamaan dengan Dayak Benuaq, namun cukup berbeda baq bumi dan awan,,,ehehhehe
walaupun ada beberapa perbedaan dalam segi bahasa, keduanya pada masa sekarang adalah merupakan satu kesatuan yang sudah tidakdapat dipisahkan. Terkadang orang Rentenukng jika ditanya dia suku apa, orang itu akan menjawab kalau dia adalah Rentenukng, begitu juga orang tonyooi menyebut mereka dengan sebutan rentenukng….
Saya hanya menduga untuk jawaban nomor 2 karena Suku Rentenukng yang datang dari daerah hulu telah tinggal berdampingan dengan suku Tonyooi sehingga terjadi akulturasi, asimilasi dan inkulturasi kebudayaan sehingga kebudayaan asli yang mereka bawa ditinggalkan dan mengnyesuaikan dengan daerah sekitarnya.. Selain itu saya juga pernah mendengar bahwa suku Rentenukng itu mempunyai bahasa asli yang dulu mereka gunakan dan berbeda dengan bahasa Tunjung…. Namun sayangnya bahasa itu hanya dipahami oleh sedikit orang rentenukng dan umumnya mereka adalah para tetua-tetua rentenukng itu, dan suku ini juga mempunyai kalender asli namun lagi-lagi saya hanya mendengar dan belum menemukannya.

SeLuk BeLuk Suku Dayak Tunjung

  • Sejarah Singkat Mengenai asal usul
Seperti kebanyakan suku-suku Dayak pada umumnya, Suku Dayak Tujung pada awalnya adalah suku yang belum mengenal tulisan sehiingga tidak diketemukannya sejarah mengenai asal-usul berupa tulisan dari suku Dayak Tunjung Ini. Kita hanya bisa mengetahuinya dari cerita-cerita rakyat dari orang tua yang diwariskan secara turun temurun. Konon menurut cerita Suku Dayak Tunjung berasal dari Dewa-dewa yang menjelma kedunia sebagai manusia untuk memperbaiki dunia yang rusak.
  • Asal usul nama
Nama Suku Dayak Tunjung ini menurut mereka (Menurut Buku: Upacara Adat Kematian Suku Dayak Kalimantan Timur) adalah Tonyooi Risitn Tunjung Bangkaas MaLikng Panguruu ulak alas yang berarti Suku Tunjung adalah pahlawan yang berufngsi sebagai dewa pelingdung.
Zaman sekarang Suku Tonyooi kini Lebih dikenal dengan sebutan Suku Dayak Tunjung. Adapun arti kata Tunjung dalam bahasa Dayak Tonyooi adalah Mudik/menuju arah hulu sungai yang kata sebenarnya adalah “Tuncukng”. Ceritanya Demikian:
pada suatu hari Seorang Tonyooi Mudik dan bertemu dengan orang Haloq (Sebutan Suku Dayak kepada seseorang yang bukan dayak dan beragama Muslim) kemudian Haloq tersebut bertanya pada Tonyooi ingin pergi kemna, kemudian si Tonyooi Menjawab “Tuncuuk’ng”, maksudnya mudik. Orang Haloq lalu terbiasa melihat orang yang seperti ditanyainya tadi disebut “Tunjung” dan hingga sekarang namanya tersebut masih dipergunakan.
  • System mata pencaharian
Mulanya suku Dayak Tunjung hidupnya sebagai petani padang yang berpindah-pindah. Disamping berladang mereka juga mencari hasil hutan seperti dammar, rotan,sarang burung, menangkap ikan, berburu, membuat anyaman dan kerajinan-kerajinan lainnya. Namun pada zaman sekarang mereka sudah banyak yang berprofesi sebagai Pegawai Neger/Swasta maupun pedagang dan pejabat pemerintah.
  • Tradisi Tonao
Seperti masyarakat Dayak umumnya, Suku Dayak Tunjung juga terkenal dengan semangat Gotong-Royong yang disebut TONAO. Semangat ini terlihat pada waktu membuka hutan, panen raya, membangun rumah/Lamin dan Lain sebagainya.
Pekerjaan membuat ladang berdasarkan keadaan musim. Biasanya bulan maret mereka mulai merintis hutan, april-mei menebang pohon (Noang Kajuuq) dan dijemur 1-2 bulan, pada bulan juli dibakar (“ngehongkakng” kaLo gak saLah dalam bahasa Dayak Tunjung). Agustus –September masan “Menugal” (menanam padi). Menanam padi dilakukan hanya 1 kali dalam 1 tahun.
  • System kekerabatan
Prinsif keturunan kelompok Suku Dayak Tunjung berdasarkan prinsif Bilateral yang menghitung hubungan kekerabatan melalui pihak pria maupun wanita. Setiap individu dalam masyarakat Dayak Tunjung termasuk dalam hubungan kekerabatan ayah dan ibunya, anak-anak mempunyai hak dan kewajiban yang sama terhadap keluarga pihak ayah maupun keluarga pihak ibunya. Prinsif keturunan Bilateral dalam Dayak Tunjung  mempunyai prinsif tambahan yaitu prinsif keturunan ambilineal yang menghitung keturunan kekerabatan untuk sebagian orang dalam masyarakat melalui orang laki-lakin dan sebagian lain dalam masyarakat itu juga melalui orang wanita.
Prinsif keturunan ambilineal ini akan terwujud dalam system penggolongan harta  milik keluarga, yang dalam bahasa Dayak Tunjung disebut Barang lama atau babatn retaaq.
Jenis-Jenis Harta dalam Keluarga:
Barang Waris : Barang Waris adalah harta yang diperoleh dari harta yang diterima  dari orang tua sebagai harta warisan. Harta ini menjadi milik pribadi seorang suami atau istri
Barang Mento / Retaq Mento : jenis ini adalah harta yang  diperoleh oleh suami atau isteri sebelum dia menikah
Barang Rampuuq / Retaaq Rempuuq: harta jenis ini adalah harta yang diperoleh atas hasi usaha bersama suami isteri, misalnya hasil ladang atau kebun.
Penggolongan harta milik tersebut menjadi pedoman bagi seorang Hakim adat di desa dalam menyelesaikan perselisihan yang berhubungan dengan harta bila terjadi perceraian.
  • Purus
Kolompok kekerabatan Suku Dayak Tunjung terikat oleh hubungan kekerabatan yang disebut dengan Purus. Purus ditentukan berdasarkan hubungan darah (Consanguity) dan hubungan yang timbul melalui perkawinan (affinity). Kesadaran akan purus ini pada masa yang silam sangat besar, hal ini terbukti dengan timbulnya pengelompokan yang disebut:
Purus Hajiiq (Darah Bangsawan)
Purus Merentikaaq (Orang Biasa/orang merdeka)
Purus Ripatn (Darah Hamba sahaya)
Dari hubungan kekerabatan ini orang dapat mengetahui jarak hubungan individu dengan kelompok atau dalam satu desa dan sifat dari hubungan ini. Jadi hubungan kekerabatan (purus) mempengaruhi pola interaksi individu dalam menyapa, menyebut terhadap orang yang lebih tua, lebih muda atau sederajat.
  • Sistem Perkawinan
Perkawinan dalam masyarakt dayak tunjung ditentukan oleh purus. Secara umum perkawinan yang diperbolehkan adalah perkawinan antara orang-orang  seangkatan yaitu saudara sepupu sederajat pertama, saudara sepupu sederajar ketiga dan seterusnya.
  • Batak
Kelompok hubungan kekerabatan yang diperhitungkan melalui purus disebut BATAK. Individu-individu yang masih memiliki hubungan kekerabatan dalam suatu kelompok disebut SEBATAK(Satu Kelompok). Dalam kelompok seorang individu dapat membedakan dengan jelas orang-orang yang tergolong dalam kelompoknya (Batak Tai) dan orang yang bukan termasuk dalam kelompoknya (Batak ULutn) dan dalam kegiatan tolong menolong pada umumnya orang-orang sebatak lah yang lebih banyak datang membantu.
  • Luuq (Rumah Panjang/Lamin)
Perkembangan desa pada masa sekarang merupakan perkembangan dari sebuah Rumah Panjang (Luuq) dan masih mengikat penduduk menjadi satu komunitas desa. Kesatuan wilayah yaitu desa (dulu rumah panjang) beserta perlengkapannya disebut BANUA.
  • Banua
Ikatan wilayah komunitas orang Tunjung disebut dengan Banua. Pada masa lalu tokoh Banua adalah perintis yang mendirikan Rumah Panjang (Luuq). Kemudia diam mempunyai pengikut dan diangkat menjadi kepala Banua yang bergelar Merhajaaq / Marhajaq dan semua golongan sanak saudaranya disebut denga Hajiiq yang berarti golongan Bangsawan dan mempunyai hak turun temurun.
  • Sistem politik/pemerintah desa Adat
  • Sistem pelapisan social
  • Roh-Roh pelindung dan Roh Jahat
  • Sistem religi

Asal usul Raja-raja Suku Tunjung

Apa yang dinamakan kerajaan Pinang Sendawar yang pernah ada di Kutai Barat, Kalimantan Timur,hanyalah merupakan representasi dari kerajaan Kutai Kertanegara.Sebab pada umumnya suku Dayak yang berdiam di Kalimantan jaman dahulu, hanya mengenal sistem pemerintahan yang dipimpim oleh kepala suku,demikian juga dengan suku dayak Tunjung.

Sistem pemerintahan kerajaan awal mulanya diperkenalkan oleh seorang keturunan bangsawan Kutai Kertanegara yang bernama Aji Tulur Jejangkat. Dialah yang menjadi raja pertama suku Dayak Tunjung. Sewaktu masih bayi Ia dititipkan oleh orang tuanya agar dirawat oleh pemimpin suku dayak Tunjung yang bernama Sengkreak .Kisah datangnya Tulur Aji Jangkat dapat kita baca pada cerita legenda suku Dayak Tunjung. Setelah beranjak dewasa Aji Tulur Jejangkat yang telah memiliki pengetahuan, budaya, serta tradisi, masyarakat suku dayak Tunjung,mengangkat dirinya menjadi raja dan menamakan kerajaan yang didirikan itu dengan sebutan kerajaan Pinang sendawar.

Menurut analisa saya,peristiwa tersebut terjadi pada sekitar abad ke-13 Masehi. Hal ini berdasarkan cerita sejarah yang ditulis oleh kerajaan Kutai Kertanegara dan tradisi sejarah lisan suku dayak Tunjung. Putra bungsu Aji Tulur Jejangkat yang bernama Puncan Karna, menikahi adik perempuan raja Kutai Kertanegara Maharaja Sultan yang bernama Aji Putri Dewi .Dari catatan sejarah Maharaja Sultan memerintah kerajaan Kutai Kertanegara pada tahun 1370-1420.

Ada benang merah yang terputus, antara peristiwa yang satu dengan yang peristiwa yang lain, antara fase pemerintahan dengan sistem kepala suku dengan sistem kerajaan.Hal menjadi sebuah pertanyaan yang mendasar,kapankah seorang Aji Tulur Jejangkat pernah belajar dan mengenal sistem kerajaan?
Seperti yang telah diketahui bahwa Sendawar terletak di pedalaman Sungai Mahakam,pada jaman dahulu wilayah ini sangat terisolir dari pengaruh dunia luar.Sehari-hari orang tua angkat Tulur Aji Jangkat adalah seorang petani,pemburu, dan hidup mengumpulkan hasil hutan, mereka belum mengenal dengan apa yang dinamakan sistem kerajaan,apalagi mengajarkan system pemerintahan kerajaan. Sangat mustahi bagi Aji Tulur Jejangkat mengetahui dengan sendirinyai sistem pemerintahan kerajaan,tanpa belajar dan berkontak dengan dunia luar. Pastilah ada tangan-tangan yang tak kelihatan yang mengatur skenario dibelakang layar.
Selain itu dari sisi nama, nama ‘’ Aji Tulur Jejangkat,adalah suatu nama yang tidak lazim dimiliki asli suku DayakTunjung. Nama itu mengandung perpaduan antara unsur budaya Jawa dan Melayu. Aji adalah suatu gelar milik bangsawan keturunan raja Kutai Kertanegara. Masyarakat suku Dayak Tunjung tidak memiliki gelar bangsawan itu. Yang ada,hanyalah sebutan bagi seorang pemimpin yaitu; “Hajiin”. Itupun hanyalah sebutan yang umum,bukan gelar khusus bagi seorang keturunan seorang raja. Tulur,berasal dari kata diulur,dalam bahasa suku Dayak Tunjung adalah, “kulo atau tengulo”. Sedangkan,”Jejangkat”,berasal dari kata diangkat/adopsi,dalam bahasa suku Dayak Tunjung adalah” muhiiq atau temuhiiq”. Jadi tepatnya, nama Aji Tulur Jejangkat dalam bahasa suku dayak Tunjung adalah: ”Hajiin Tengulo Temuhiq “. Dari segi Etimologi bahasa dapatlah diketahui bahwa Aji Tulur Jejangkat bukanlah seorang yang berasal dari suku dayak Tunjung, melainkan seseorang yang berasal dari keturunan bangsawan Kutai Kertanegara.
Apa lagi posisi kerajaan Pinang Sendawar terletak ditepi sungai Mahakam. Suku Dayak Tunjung sudah lama meninggalkan tradisi membangun tempat tinggal atau lamin ditepi sungai Mahakam.Memang pada mulanya suku Dayak Tunjung berdiam tepi sungai Mahakam,dalam bahasa suku Dayak Tunjung “Diapm diq pampakng Mahakapm”. Namun tradisi itu sudah ditinggalkan,karena daerah tepi Mahakam adalah daerah yang sangat terbuka dari serangan musuh dan pengayau. Malah Sebaliknya Aji Tulur Jejangkat melakukan hal demikian,untuk memudahkan memungut dan mengumpulkan upeti lalu menyetorkan ke Kutai Kertanegara.
Setelah Aji Tulur Jejangkat wafat,anaknya Swalas Guna menggantikan kedudukannya sebagai raja Pinang Sendawar. Sepeninggal kedua orang tersebut pengaruh kerajaan Kutai Kertanegara semakin berkurang. Maka mulailah raja-raja Tunjung yang menggantikannya tidak rutin lagi membayar upeti /kembang tahun dan berpartisifasi dalam kegiatan kerja paksa / suakaq ke Kutai Kertanegara.

Karena kedua alasan diatas menjadi penyulut kemarahan sang penguasa tunggal Sungai Mahakam. Selain itu kerajaan Sendawar yang dipimpim seorang raja wanita yang bernama Men Uyang menjadi potensi ancaman bagi kerajaan Kutai Kertanegara. Daerah kekuasannya membentang hampir seluruh tanah Sendawar. Kutai Kertanegara rupanya ingin tetap berambisi menjadi penguasa tunggal sepanjang aliran sungai Mahakam.
Pada abad ke-15 Masehi Kutai Kertanegara mengirimkam pasukannya ke hulu sungai Mahakam untuk menghukum daerah yang membangkang itu. Serbuan itu mengakibatkan benteng Men Uyang yang terbuat dari kayu itu hangus terbakar,penduduk berlarian kocar kacir menyelamatkan diri ke hutan,yang tewas tak terhitung jumlahnya,sedang raja wanita itu raib tak ditemukan jasadnya. Strategi yang dipakai oleh tentara Kutai Kertanegara adalah dengan menghamburkan manik-manik disekitar benteng, sehingga penduduk menjadi lengah , lupa akan tugasnya mempertahankan benteng. Karena peristiwa itulah Men Uyang diberi julukan “Raja Manik”.

Ketikng nama suami Raja Manik,yang selamat dari serangan itu, bertekad menuntut balas,Ia mengumpulkan rakyat Sendawar yang masih tersisa dan berpesan kepada rakyat agar tetap menjaga wilayah tanah Tunjung. Lalu berangkatlah ia membawa empat orang panglimanya ( Pemanuq dlm.bhs.Tunjung )pergi ke Kutai Lama. Ketikng sendiri tewas dalam suatu pertempuran melawan tentara Kutai Kertanegara. Namun keempat Panglimanya dapat pulang ke tanah Sendawar. Seandainya tidak ada perjanjian damai dari penguasa Kutai Lama,maka keempat orang yang ahli bertempur itu tidak akan pulang ke tanah Sendawar sampai terbalaskan dendam mereka. Isi dari perjanjian itu sebagai berikut;

1.Pihak kerajaan Kutai Kertanegara mengembalikan daerah taklukkanya tanah Sendawar,kepada suku dayak Tunjung.
2.Kerajaan Kutai Kertanegara tidak akan lagi menyerang tanah Sendawar.

Akan tetapi perjanjian damai itu sebenarnya muslihat Kutai Kertanegara,daerah hulu sungai Mahakam itu masih tetap dalam cengkramannya. Karena tidak mau yang dianggap fihak melanggar perjanjian serta tidak mau mengambil resiko yang besar, maka penguasa Kutai Kertanegara mengangkat penduduk lokal suku dayak Tunjung sebagai perwakilanya.Mereka ini mempunyai tugas-tugas sebagai berikut;
1.Mengkoordinir dan mengumpulkan upeti ( Kembang tahun ) lalu diserahkan dan dibawa kepada Kutai Kertanegara setiap tahunnya.
2.Menggerakkan rakyat agar bekerja paksa di istana Kutai Kertanegara dan sekitarnya setiap tahunnya.Gunung Pedidik di kota Tenggarong adalah sisa bekas peninggalan kegiatan itu.

Atas jasa dan pengabdian terhadap kerajaan Kutai Kertanegara itu,maka penguasa/raja menganugerahkan gelar kehormatan mereka.Nama gelar-gelar itu adalah;

1.Temenggung
2.Raden
3.Mangku
4.Singa Mas / Macan
5.Karti dll.

Kesimpulan : Pertama tidak semua masyarakat suku dayak Tunjung meyakini bahwa kerajaan Pinang Sendawar merupakan manefestasi dari kerajaan suku dayak Tunjung. Melainkan hal itu merupakan representasi dari kerajaan Kutai Kertanegara. Walaupun ada upaya yang intensif untuk menggiring opini masyarakat selama berabad-abad agar mempercayai hal itu. Kedua membayar kembang tahun dan berpartisifasi dalam kegiatan suakaq tidak berasal dari nilai-nilai budaya suku dayak Tunjung,melainkan merupakan warisan dari bangsa Majapahit.

Sejarah, Fungsi dan Deskripsi Tari Gantar Dayak Tunjung

1. Sejarah Tari Gantar
Ada suatu mitos yang mengawali lahirnya tari gantar sebelum terciptanya tari gantar yang sudah semakin berkembang. Mitos ini dulunya sangat dipercaya pada masyarakat pendukungnya yaitu masyarakat Dayak Tunjung dan masyarakat Dayak Benuaq. Konon menurut mitos yang berkembang dalam masyarakat Suku Bangsa Dayak Tunjung dan Suku Bangsa Dayak Benuaq bahwa lahirnya Tari Gantar berawal dari cerita di Negeri “Dewa Nayu” yang diyakini sebagai tempat Dewa Nirwana yang bernama Negeri Oteng Doi. Pada suatu hari terjadi peristiwa didalam keluarga Dewa di Negeri Oteng Doi atau Negeri Dewa Langit. Keluarga tersebut terdiri dari suatu kepala keluarga yang bernama Oling Besi Oling Bayatn. Oling Bayatn mempunyai seorang istri dan dua orang anak putri yang bernama Dewi Ruda dan Dewi Bela. Keluarga tersebut hidup tenteram dan damai di Negeri Oteng Doi. Pada suatu ketika datanglah seorang Dewa yang bernama Dolonong Utak Dolonong Payang ke keluarga Oling Besi Oling Bayatn, tanpa disangka dan diduga oleh keluarga Oling Besi. Kedatangan Dolonong Utak tenyata beritikad buruk. Oling Besi dibunuhnya dengan tujuan dapat menikahi istri Oling Besi. Peristiwa tersebut terjadi didepan mata istri dan kedua anak Oling Besi. Karena takutnya istri Oling Besi menerima ajakan Dolonong Utak untuk menikah, namun kedua anaknya menyimpan dendam pada ayah tirinya tersebut.
Hari berganti hari, masa berganti masa, setelah kedua Putri Oling Besi menginjak remaja mereka berdua berencana untuk membunuh ayah tirinya. Pada suatu hari kedua Dewi tersebut akan melaksanakan niatnya untuk membalas kematian Ayah kandungnya pada Ayah tirinya, saat Ayah tirinya (Dolonong Utak) sedang istirahat di balai-balai rumahnya. Ketika kesempatan itu tiba dibunuhlah dolonong Utak dengan menggunakan sumpit. Dalam waktu sekejap Dolonong meninggal, setelah diketahui bahwa Ayah tirinya meninggal selanjutnya kedua putri tersebut memenggal kepala Dolonong dan diikatkan pada batang sumpit yang digunakan untuk membunuhnya. Kedua putri tersebut senang, keduanya bersuka cita dan mengungkapkannya dengan menari-nari berdua. Dan sebagai musiknya mereka mencari sepotong bambu pendek dan mengisinya dengan biji-bijian. Ungkapan kepuasan membunuh Dolonong Utak itu di lakukan hingga beberapa hari. Begitulah peristiwa yang terjadi di alam Dewa Langit.
Dari dunia kejadian di alam Dewa tersebut diketahui oleh seorang manusia yang mampu berhubungan dengan alam Dewa yang bernama Kilip. Karena Kilip mengetahui kejadian itu maka Dewi Ruda dan Dewi Bela mendatangi Kilip agar ia tidak menceritakan kejadian ini kepada Dewa-dewa lain di Negeri Oteng Doi. Kilip menyetujui dengan mengajukan satu syarat yaitu Dewi Ruda dan Dewi Bela harus mengajarkan tari yang mereka lakukan saat bersuka cita. Tanpa pikir panjang Dewi Ruda dan Dewi Bela pun mengajarinya. Dari hasil pertemuan tersebut Kilip mendapatkan satu bentuk tarian sakral karena properti tari tersebut berupa tongkat panjang dan sepotong bambu, maka Kilip memberi nama tarian tersebut sebagai Tarian Gantar yang artinya tongkat (yang sebenarnya sebuah sumpit) dan sepotong bambu yang biasa disebut Kusak.
Tari Gantar ini dahulunya hanya ditarikan pada saat upacara adat saja, menurut versi cerita yang lain bahwa tari gantar merupakan tarian yang dilaksanakan pada saat upacara pesta tanam padi. Properti tari sebuah tongkat panjang tersebut adalah kayu yang digunakan untuk melubangi tanah pertanian dan bambu pendek adalah tabung benih padi yang siap ditaburkan pada lubang tersebut. Gerakan kaki dalam tari ini menggambarkan cara menutup lubang tanah tersebut. Muda-mudi dengan suka cita menarikan tari tersebut dengan harapan panen kelak akan berlimpah ruah hasilnya. Tari ini biasanya dilakukan bergantian oleh anggota masyarakat Suku Dayak Tunjung dan benuaq. Versi lain juga beredar dalam masyarakat bahwa dahulunya Tari Gantar adalah merupakan tari sakral yang hanya boleh ditarikan saat para pahlawan pulang dari medan peperangan. Tari ini sebagai penyambut kedatangan mereka dan ditarikan oleh gadis-gadis remaja. Properti tongkat panjang adalah sebuah sumpit dan diberi hiasan kepala atau tengkorak musuh (digantungkan) yang telah dibunuh oleh para pahlawan. Sedangkan bambu kecil merupakan peraga unutk mengimbangi gerak tari.

2. Fungsi Tari Gantar
Tari adalah salah satu bentuk dari perwujudan budaya, sedangkan ciri, gaya dan fungsi suatu tari tidak terlepas dari kebudayaan dimana tari tersebut muncul dan berkembang. Dalam lingkup budaya yang mempunyai bahasa, adat istiadat dan kepercayaan tari tersebut bisa terbentuk dan fungsi. Tarian dapat disajikan dalam berbagai peristiwa. Didalam kebudayaan daerah dikenal penyajian tari dalam rangka suatu upacara keagamaan dan upacara adat, bahkan tidak jarang tari itu merupakan bagian tidak terpisahkan dengan upacara tersebut. Dalam hal ini orang yang menyajikan tarian tersebut adalah orang yang terlibat dalam upacara tersebut, dengan maksud dari setiap gerakan ada arti atau simbol suatu pernyataan atau harapan yang diungkapkan. Ditinjau dari fungsi seni tari, Tari Gantar pada awalnya sebagai upacara adat dan memang munculnya atau keberadaannya suatu karya tari pada jaman dahulu pengemban utama dari keberadaan suatu tari. Secara khusus bahwa seni tari beserta iringan yang digunakan pada dasarnya merupakan pengemban dari unsur-unsur yang bersifat magis yang diharapkan hadir. Fungsi kesenian dalam ethnik di Indonesia, yaitu:
a. Sebagai sarana untuk memanggil kekuatan Roh
b. Penjemputan Roh-roh pelindung untuk hadir ditempat pemujaan
c. Peringatan kepada nenek moyang dengan menirukan kegagahan dan kesigapan.
d. Merupakan pelengkap upacara, sehubungan dengan peningkatan tingkat hidup seseorang atau saat tertentu.
Pergeseran fungsi bisa saja terjadi yaitu fungsi sakral ke fungsi pertunjukkan karena pergeseran tersebut sudah mulai di dukung oleh masyarakat penduduknya dan masyarakat sudah tidak mendukung adat yang menopang dari karya tari tersebut sehingga perlu adanya upaya-upaya pelestarian dengan cara mengalihfungsikan. Hal tersebut dapat terjadi karena adanya beberapa pengaruh, antara lain:
a. Adanya pengaruh budaya lain
b. Masuknya beberapa agama
c. Ada penagruh globalisasi dan informasi yang memudahkan komunikasi.
Begitu pula yang terjadi dengan Tari Gantar, pada jaman dahulu Tari Gantar terangkai dalam upacara Ngawung Enghuni, yaitu semacam upacara tanam padi, beralih fungsinya menjadi fungsi pertunjukkan karena adanya pengaruh-pengaruh tersebut diatas. Tari Gantar pada saat ini bisa digunakan untuk penyambutan tamu. Fungsi pertunjukkan antara lain:
a. Sebagai media hiburan
b. Sebagai media pendidikan
c. Sebagai kajian seni
d. Sebagai media promosi, dsb.
Fungsi Tari Gantar berkembang lebih luas dan tentunya disesuaikan kebutuhan dari event yang dipergelarkan, baik itu bentuknya, maupun lamanya (durasinya).

3. Deskripsi Tari Gantar
a. Gambaran Secara Umum
Gerakan Tari Gantar yang sekarang sering kita saksikan merupakan rangkaian gerakan yang mengalami proses penggarapan maupun pemadatan. Gerakan Tari gantar didominasi pada gerakan kaki. Pada awalnya Tari Gantar di abgi menjadi 3 jenis, yaitu:
1) Gantar rayatn
Jenis Tari Gantar ini alatnya hanya satu yaitu Gantar (kayu yang panjang), pada ujung tongkat tersebut diikatkan/digantung tongkorak manusia yang dibungkus dengan kain merah dan dihiasi dengan Ibus. Mereka menari berkeliling sambil menyanyi (bergurindam), dipinggang penari terikat mandau atau parang. Apabila tidak memegang tongkat, mereka mengelewai (melambaikan tangan sesuai irama).
2) Gantar Busai
Jenis tari ini hanya membawa sepotong bambu yang diisi dengan biji-bijian yang dipegang tangan sebelah kanan sedangkan tangan kiri tidak membawa apa-apa (kosong) waktu menari dilambai-lambaikan sesuai irama (ngelewai) sedangkan bambunya berukuran 50cm diberi dua belas gelang agar berbunyi gemerincing jika digerakkan. Jumlah bambu atau gantar tersebut sesuai dengan jumlah penarinya. Mereka menari berkelompok-kelompok, kadang ada yang “Ngloak” (menari sambil saling memupuki dengan pupur basah).
3) Gantar Senak dan Kusak
Jenis Tari Gantar ini, penarinya menggunakan dua peralatan tari yaitu Senak (tongkat) yang dipegang tangan kiri. Sedangkan Kusak (bambu) yang dipegang tangan kanan, yang berisi biji-bijian supaya nyaring bunyinya. Kusak dipegang tangan kanan dengan telapak tangan telentang dan siku ditekuk. Senak biasanya berukuran satu sampai seperempat meter, sedangkan Kusak dengan 30cm yang diisi dengan biji-bijian dan ujungnya di beri penutup yang disebut dengan Ibus.

Jenis tari yang ketiga inilah yang berkembang pada saat ini dengan perkembangan variasi gerak, pola lantai, penggarapan level, iringan tari yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi pada saat ini. Sekarang Tari Gantar berfungsi untuk menyambut tamu yang datang ke daerah tertentu, daerah tersebut menyebutnya dengan sajian Tari Gantar dan mengajaknya menari cukup dengan menyerahkan tongkat kepada tamu yang akan diajak menari bersama. Proses perkembangan ini melalui proses penggarapan baik melalui pemadatan maupun penggalian sehingga tercipta suatu rangkaian yang sekarang sering kita saksikan. Dalam proses penggarapan ini juga tidak lepas dari pengaruh ethnik serta ide dari sang pencipta.
Proses penggarapan ini dilakukan karena adanya berbagai faktor yang tidak mendukung lagi dari keberadaan maupun kelestarian karya tari ini, contoh faktor tersebut adalah beralihnya fungsi tari dari fungsi sakral menjadi fungsi pertunjukkan, pengaruh arus informasi dan komunikasi yang menuntut serba cepat sehingga tidak bisa lagi masyarakat pendukung untuk berlama-lama menikmati karya tari yang monoton bahkan tidak tertarik untuk menyaksikan. Masih banyak lagi faktor lain yang menjadi pertimbangan dan pola diperhatikan sehingga muncul suatu proses penggalian, penggarapan tari, dengan harapan karya tari tersebut masih mampu bertahan hidup dan tetap diterima oleh masyarakat pendukungnya.



b. Ciri Umum gerakan Dasar Tari Gantar
Unsur-unsur Gerakan:
1) Gerakan tangan memegang Kusak
Dasar gerakan tangan dan cara memegang Kusak:
Keempat jari tangan yang memegang Kusak, menggemgam dari bawah ke atas, sedangkan ibu jari melingkari Kusak dari atas.
Posisi Kusak vertikal saat digenggam:
Pada saat menggerakkan tangan yang memegang Kusak sudut siku 25 derajat dan ke bawah hingga sudut 45 derajat dengan menggoncang-goncang bambu (Kusak). Tangan pergelangan yang aktif bergerak.
2) Gerakan tangan memegang Senak (Tongkat)
Dasar gerakan tangan yang memegang Senak dan cara menggenggamnya:
Keempat jari tangan memegang Senak, menggenggam dari sisi luar ibu jari menutup dari atas ujung tongkat (Senak).
Tongkat (Senak) posisi lurus ke bawah:
Tongkat (Senak) pada saat diangkat ujungbawah Senak kurang lebih 1 jangkal dari lantai dan ditaruh kembali hingga ujung bawah Senak bertumpu di dasar lantai di depan ujung jari kaki kiri.
Gerkan ini dilakukan dengan mengikuti gerakan kaki (saat kaki melangkah Senak diangkat, dan pada saat kaki di letakkan Senak bertiumpu di lantai).
3) Gerakan kaki dan gerakan berjalan
Posisi awal kedua kaki sejajar. Sebelum kaki dilangkahkan, ujung jari kaki menumpu atau menyentuh lantai baru kemudian dilangkahkan, gerakan ini dilakukan bergantian dengan kaki melangkah kanan, kiri, kana, kiri dalam hitungan 1 sampai 4 atau sesuai yang dikehendaki pelatih tari.
Tumit kaki menumpu lantai, sebaliknya jari-jari kaki ke atas dengan arah hadap kaki agak ke kanan 25 derajat dan lurus ke depan, lalu tumit kaki diangkat ujung jari-jari kaki menumpu lantai kemudian kaki ditarik ke belakang agak ke samping melampaui kaki kiri ujung jari kaki menyentuh lantai, berat badan pada kaki yang satunya.
Bergerak mundur dengan sebelumnya meletakkan kaki kanan ke depan, arah hadap ke kanan 25 derajat dan lurus ke depan. Tumit kaki kanan tepat di depan ujung jari kaki kiri, kemudian di tarik ke belakang melampaui kaki kiri dilakukan gerakan yang sama dengan bergantian kaki. Ujung jari kaki kanan bertumpu pada lantai tumit di tarik ke atas, berat badan pada kaki kiri. Posisi kaki kanan agak di depan kaki kiri, kemudian ujung kaki kanan membuka ke samping dengan tidak merubah letak kaki bagian tumit hingga kedua kaki membentuk sudut 25 derajat (pada saat kaki bagian ujung membuka ke samping, telapak kaki tidak menyentuh lantai hanya tumit kaki dan berat badan pada kaki kiri). Selanjutnya kaki kanan menutup hingga posisi kaki seperti semula, gerakan ini dilakukan dengan sistematika buka, tutup buka tutup lalu melangkah maju dengan hitungan 1-2-3 pada hitungan ke 4 kaki kanan membuka ke sampipng selanjutnya seperti keterangan gerakan ke atas. Berjalan jinjit, jari-jari dari kedua kaki bertumpu pada lantai tumit diangkat kemudian berjalan ke depan. Kaki kanan bergerak ke samping, dengan kesan membuat garis cembung di lantai, selanjutnya kaki kiri mengikuti kaki kanan, dengan bergerak ke kanan hingga kedua kaki sejajar hampir bersentuhan selanjutnya kaki kiri bergerak ke samping dengan kesan membuat garis cembung pada lantai (hitungan 1 x 8), kemudian kaki kanan dilangkahkan ke depan arah hadap kaki kanan ke kanan, berat badan pada kaki kiri selanjutnya berpindah pada kaki kanan bersamaan dengan membalikkan badan ke arah hadap yang berlawanan. Lalu ujung jari kaki bertumpu pada lantai, gerak ini dilakukan dengan ritme yang cepat. Kaki kanan melangkah ke depan diikuti oleh kaki kiri dengan melangkah ke depan melampui kaki kanan, kaki kanan bergerak bergerak ke belakang dengan posisi arah hadap kaki ke kanan diikuti kaki kiri dengan mengangkat kaki hingga kurang lebih 1 jengkal dari dasar lantai.
4) Gerakan posisi badan
Pada dasarnya gerakan dan posisi badan pada saat melakukan gerak Tari Gantar dalam posisi biasa, begitu juga pada gerak dari pedalaman Kalimantan Timur yang lainnya. Kalaupun ada tekanan pada posisi badan itu tidak terlalu ditonjolkan seperti pada waktu badan merendah pantat tidak ditonjolkan kke belakang seperti pada ciri khas Tari Bali, dan tidak membusungkan dada ke depan tetapi badan tetap merendah dengan menekukkan kedua lutut atau salah satu kaki di tari ke depan dan ke belakang hingga badan merendah untuk mengimbangi. Dalam Tari Gantar tidak ditemukan adanya ekspresi wajah sehingga mata, leher, dan kepala tidak berfungsi banyak.

c. Tata Busana
Penari wanita Tari Gantar biasanya menari dengan menggunakan kostum dan perlengkapan seperti:
1) Baju atasan
Baju atasan yang dipakai penari gantar yaitu baju model blus “You Can See” yang biasanya diberi rumbai-rumbai dipinggir lingkaran lengan bajunya, bentuk leher bundar kancing depan. Bahan yang dipergunakan kain polos biasa atau dari bahan tenun ulap doyo, bahan tenun ulap doyo ini bisa di dapat dari masyarakat Dayak Benuaq di Tanjung Isuy. Sebagai pengganti blus penari bisa juga mengenakan kebaya panjang atau setengah lengan yang terbuat dari bahan atau kain tenun.
2) Ta’ah
Bawahan penari Gantar menggunakan kain Sela atau Ta’ah dengan ukuran lebar 2 kali ukuran lingkaran pinggang. Diukir atau dihiasi uang logam. Bisa juga pinggirannya ditempel kain perca tang berwarna-warni. Bahan terdiri dari kain polos atau tenun doyo.
3) Hiasan kepala
Bagian kepala memakai Labung yaitu hiasan kepala yang diikat seputar kepala yang dihiasi dengan ukiran-ukiran yang disebelah belakang menempel kain lurus ke samping atau bisa juga penarinya memakai seraung yaitu topi lebar yang diberi hiasan pada bagian atas serta rumbai-rumbai yang berjuntai pada pinggiran topi. Sebagai perlengkapan penari menggunakan hiasan hiasan kalung manik batu beraneka warna dan pada pergelangan tangan perhiasan gelang manik batu beraneka warna atau gelang sulau yang terbuat dari logam atau tukang. Pada pergelangan kaki di pasang gelang kaki.

Pesona Danau Aco

PHTO0005.JPG

Danau Aco terletak di Kampung Linggang Melapeh Kecamatan Linggang Bigung , 10 Km dari Kampung Melapeh Baru,  25 Km dari pusat kota Sendawar, dapat dijangkau dengan sepeda motor dan mobil. Berjarak 5 Km dari Kampung Linggang Melapeh Kecamatan Linggang Bigung. Danau Aco luasnya 4 Ha.

Di Danau Aco juga terdapat berbagai jenis ikan air tawar seperti Haruan, Sepat Siam, Kakap, Nila, Lele, dan Keong Emas. Yang khas di sekeliling Danau Aco banyak terdapat jaung (honje atau kecombrang) yang buahnya untuk dimakan sebagai bahan rujak dan bunganya untuk sayur asam atau sambal.

Aco

Konon Danau Aco ada legendanya. Ribuan tahun yang lalu dipuncak Gunung Aco terdapat sebuah kampung yang terdiri dari beberapa Lamin Beluq dan Oso diadakan upacara adat Timeq (Beliatn Ngugu Taotn). Beluq adalah seorang Bapak yang berhobi berburu disamping pekerjaan sehari-hari berladang. Oso, seorang ibu pawang beliatn. Saking gembiranya Beluq berburu mendapat seekor Lutung (Buus dalam bahasa Tonyooi). Dia mengambil ekor Buss yang panjang untuk pemukul tambur dan Oso menari beliatn dengan semangat sebagai ungkapan terima kasihnya kepada Beluq yang memberi pemukul tambur yang unik. Semua yang hadir tertawa terpinggal-pinggal melihat peristiwa tersebut, sehingga terjadilah angin ribut, hujan lebat dan petir guntur bertabu-tabu. Terjadilah kehancuran (Killit dalam Bahasa Tonyooi), Oso hancur menjadi danau dan Beluq melarikan diri ke daerah lain, yang kemudian dia juga berubah menjadi sebuah batu di sebuah danau di daerah lain yaitu Danau Beluq.

Sabtu, 11 Mei 2013

Kampung Melapeh Baru

MELAPEH BARU, adalah sebuah kampung yang berada di Kecamatan Linggang Bigung. Umumnya mata pencaharian masyarakat melapeh baru Berkebun Karet dan sebagian merupakan Pegawai Pemerintah dan Swasta. Disini, anda akan menemukan bahwa mayoritas penduduknya adalah masyarakat dari suku Tunjung 

Sarana dan Prasarana
  • Kantor Kepala Kampung
  • Puskesmas Pembantu/Pustu
  • Sarana Pendidikan :
  • Sekolah Dasar Negeri/SDN. 005
  • Taman Kanak - kanak / TK
  • PLN
  • Sarana Air Bersih/SAB
  • Jalan aspal 5  Km
Potensi Wisata dan Adat Istiadat
  • Tari Gantar
  • Nyanyian Rijoq
  • Acara Adat Kuangkai, Kenyau dan Ngugu Tautn
  • Danau Aco
  • Lamin Adat Melapeh Baru
Koperasi
  • Koperasi Serba Usaha Insan Mandiri
  • Koperasi Serba Usaha Kara Linggang
  • Koperasi Simpan Pinjam Gantung Langit
  • Koperasi Keagamaan El-Shadai